escapism

Semakin lama Nge merasa hidup semakin cepat berputar. Semakin cepat berarti semakin sebentar. Sebentar di atas ( bahkan sangat sebentar ). Cepat di bawah ( bahkan sangat cepat ). Nge baru sadar kalau Nge selama ini ada dalam kubangan ketidakadilan dan kemunafikan yang digores oleh paras – paras indah di muka bumi ini. Sebenarnya kasihan pada bumi yang sudah penuh dengan corengan ketidakjujuran dari orang – orang yang jujur kalau mereka tidak jujur. Miris dan ironis bukan ??

Kalau saya tidak begitu peduli pada bumi. Walau saya dan Nge mempunyai tanggung jawab juga untuk menyayangi bumi tapi yang saya perhatikan saat ini adalah Nge. Nge yang sedang terjebak dalam kubangan ketidakadilan dan kemunafikan yang digores oleh paras – paras indah di muka bumi ini.

Sekali lagi Nge menghela nafasnya. Tangannya semakin basah oleh keringat. Matanya sudah mulai berair. Berkaca – kaca. Dari sudut matanya mulai muncul bulir air mata ( yang menurut saya amat sangat tidak berguna untuk dikeluarkan ).

Ah ! Basi ! Kenapa ??! Sam lagi ?? Bukan ! Nge sudah tidak mau lagi membiarkan tentang dirinya dan Sam menahan kebahagiaannya untuk tetap meluncur kencang seperti roket. Lalu apa ?? Apa ? Tidak tahu. Kalian tidak tahu. Saya tidak tahu. Hanya Nge yang tahu. Tumben Nge tahu tapi saya tidak tahu. Kenapa ? Nge sudah berubah. Nge beda.

Di pojok ruangan tangannya yang basah masih menempel di atas kertas. Jari – jarinya yang tidak dilingkari oleh cincin tetap asyik menggoreskan coretan – coretan tak tentu. Kadang wajah sedih lalu di sampingnya wajah tertawa. Tak jauh dari gambar itu ada gambar jari tengah yang diacungkan lalu di sampingnya ada gambar hati dengan goresan yang sempurna. Indah. Bahkan akan terlihat manis untuk kado di hari Valentine kalau di beri warna merah muda atau merah darah.

Layar ponsel Nge masih menampilkan pesan dari Sam yang belum sempat ia balas. Bukan belum sempat..Nge mengulur – ulur waktu untuk membalasnya. Nge rindu pada Sam. Tapi apa Sam rindu pada Nge ? Nge mulai sayang pada Sam. Tapi apa Sam mulai sayang pada Nge ? Nge ingin ada di dekat Sam sekarang. Tapi apa Sam ingin ada di dekat Nge sekarang ?

Ah ! Nge putuskan untuk meninggalkan buruk sangkanya pada Sam. Semakin ia larut dalam prasangkanya yang belum terbukti benar, ia akan semakin larut dalam kubangan ketidak bahagiaan. Dibalasnya kecupan Sam lewat pesan singkat..

Mmuuaacchhh…

Hanya itu ?? Iya hanya itu. Ah, Nge ! Lama sekali. Hanya untuk mengetik beberapa huruf saja kenapa harus berkeringat segala ?? Seperti menahan rasa sakit. Tolol ! Nge memang sedang sakit sekarang. Kalau ia tidak sakit, Sam akan dihujani berjuta ciuman darinya. Tapi Nge sekarang sedang tidak sehat. Kenapa ?? Ya karena Nge sedang sakit. Kenapa Nge sakit ?? Karena ada yang menyakiti. Tidak usah berbicara panjang lebar. Waktu terlalu berharga untuk menghirup nafas bau yang membungkus kata – kata tak berguna yang begitu manis untuk didengar. Hanya didengar ! Jangan dirasakan karena tidak berguna. Intinya kamu mau tau kan siapa yang menyakiti Nge ? Yang menyakiti Nge adalah saya.

??!!

“Hh…” Nge menghela nafas.

Nge terlalu baik untuk saya. Nge tidak marah pada saya yang membuatnya sakit. Nge menerima. Nge hanya diam. Nge kuat. Nge menahan rasa sakitnya. Tatkala saya tunjukkan suatu hal yang kini menamparnya Nge hanya diam. Saya tahu hati Nge langsung runtuh. Cintanya pada Sam langsung luntur. Tapi saya tidak tega pada Nge yang diperlakukan tidak adil oleh Sam. Sebentar..Biar saya koreksi. Apa saya salah melakukan ini ? Nge pikir Sam sudah cukup baik bagi dirinya tapi kenapa saya tidak ? Bukan kah saya selalu sejalan dengan Nge dan Nge pun begitu ? Saya hanya tidak rela Nge terpuruk gara – gara lelaki itu. Karena saya tahu, kebutuhan lelaki itu sudah lebih dari cukup dari kata cukup. Sudah lebih puas dari pada kata puas. Lalu apa lagi yang dilakukannya terhadap Nge ? Kalau saja kebahagiaan Nge bukan kebahagiaan saya, sudah saya penggal cinta Nge dan Sam. Saya bisa mencarikan yang lebih baik untuk Nge.

Ketika saya memperlihatkan keadaan Sam saat ini Nge ingin menangis. Tubuh saya seketika terasa berat karena menopang raga Nge yang rapuh. Bukan raga Nge. Tapi jiwa Nge yang rapuh. Sst..Diam ! Ada yang datang !

Segurat senyum mengiringi langkah si empunya. Rokok yang tadi dihisap oleh mulut itu dimatikan. Dibuang ke sebuah asbak dan melebur menjadi abu abu – abu.

“Hey..Sendirian aja ! Kenapa ?” sapa akrab senyum tadi.

Nge mengangkat wajah. Untung matanya belum merah. Pipinya pun masih terlihat berseri menyambut senyum yang mulai menenangkannya.

“Nggak apa – apa. Setiap orang kan punya waktu untuk sendiri,” jawab Nge senormal mungkin.

“Ooh..Jadi ganggu dong kalau gue datang ?” tanya senyum tadi. Terselip nada sesal dari suaranya.

“Nggak,” jawab Nge cepat. “Gue seneng kok lo di sini. Nggak apa – apa..duduk aja,” Nge tersenyum untuk meyakinkan.

“…”

“…”

“Ada apa sih ? Nggak biasanya diam gini,”

“Ada apa ya ? Ada apa – apa, “ jawab Nge sambil tertawa kecil.

Syukurlah Nge sudah bisa tertawa. Saya senang dan tidak merasa begitu bersalah lagi sekarang.

“Ada apa – apa ?”

“Iya, ada apa – apa,”

“Apa ?”

“Apa ?”

“Apa ??”

Nge kini tertawa.

“Apa ya ? Hmm..sakit,”

“Sakit ??!”

Nge mengangguk cepat.

“Kenapa ?”

“Tersandung,”

“Di mana ?”

“Nggak tau,”

“Lho…”

Nge tersenyum kecil. Lesung pipinya terlukis di pipinya yang putih berseri.

“Nggak sakit sih..”

“Lho..tadi katanya sakit,”

“Udah nggak,” Nge menyeringai jahil. Senyumnya memperlihatkan deret giginya yang rapi.

“Cepat sekali ?”

“Untuk apa mempertahankan rasa sakit lama – lama ? Nggak ada juga kan orang yang mau sakit lama – lama ? Orang gila pun nggak mau sakit walau mereka sakit jiwa dalam waktu lama, apalagi orang waras,”

Yang mempunyai senyum tadi hanya mengangguk – anggukkan kepalanya. Nge menyentuh pergelangan tangan orang itu dan berkata,

“Keluar yuk..Hidup ini terlalu hina untuk terus dirundung sedih. Nafas ini terlalu berharga untuk berhembus pada hal – hal yang nggak penting. Nyawa ini terlalu berharga untuk hanyut dalam kebodohan,”

Nge menarik tangan orang tadi. Menggenggamnya erat.

“Temani gue ya ?” tanya Nge.

“Pasti,” jawab orang tadi mantap.

Nge dan orang tadi keluar. Menghirup udara segar. Melepaskan penat. Membebaskan kesal. Menerbangkan amarah. Menghanyutkan dendam. Meninggalkan hak untuk membalas akan sakit hati yang telah diterima.

“Senang amat lo ? Kenapa senyum – senyum ?” tanya orang yang tangannya digandeng oleh Nge.

“Iya,”

“Kenapa ?”

Nge tersenyum girang.

“Itu siapa ?” tanya Nge tanpa mengalihkan pandangannya dari yang sedang ia pandang.

“Siapa ? Yang mana ?”

“Itu,” jawab Nge masih memandang pemandangan tadi.

“Ooh..Itu ? Itu Dund,”

“Dund ??”

“Iya,”

Nge tersenyum senang.

“Indah, ya ?”

Nge menarik tangan orang tadi. Bergerak untuk pergi. Berlalu melewati Dund yang masih memperhatikan Nge. Ada rasa penasaran yang terselip dalam hati Nge akan Dund. Tapi Nge tutup rapat – rapat. Tak ada yang menjamin Dund tidak seperti Sam atau saya. Atau mungkin Dund lebih buruk dari pada Sam dan saya.

“Dund yang indah..Ahh..Hanya pemandangan. Pemandangan yang untuk dipandang bukan untuk dimiliki,” seringai Nge yang sudah tak acuh lagi pada saya.

Kalau dengan Sam bagaimana ? Ya mana saya tau !

October, 10th 2008

Published in: on October 10, 2008 at 2:01 am Comments (0)

Yang…

Yang Nge ketahui kalau tanggung jawab kaum Adam lebih besar dan lebih berat dari pada kaum Hawa. Mereka lah yang harus menjamin kehidupan kaum Hawa di muka bumi ini. Tidak peduli mau mereka kaya atau miskin, tampan atau jelek, berdasi atau kaos oblong, tuksedo atau kaos dalam, hitam atau putih, kurus atau gemuk, berpangkat atau kuli..semuanya harus menjamin Hawa – Hawa yang ada di muka bumi dari segi keselamatan maupun lainnya. Baik lahir maupun batin. Intinya sudah tugas mereka lah untuk mensejahterakan kaum Hawa.

Yang Nge pikir saat ini adalah hanya pria tak bertanggung jawab kalau membiarkan seorang wanita nelangsa selama umurnya berjalan. Hanya pria yang bukan pria yang tega melihat wanita memeras keringat apalagi keringat itu turut andil dalam membesarkan perutnya yang akan semakin tambun dengan makanan yang dia makan tanpa usaha. Kecuali pria itu memang sudah kehilangan daya dan upaya untuk bangkit dari duduknya. Untuk menghentikan kaum wanita memeras keringat. Untuk menghentikan kaum wanita menggantikan perannya sebagai kaum Adam. Untuk menghentikan wanita yang berperan untuk melanjutkan hidupnya.

Yang Nge lihat saat ini adalah pemandangan yang sudah sangat lumrah bagi matanya. Namun mungkin masih tabu di kalangan masyarakat. Apalagi di kalangan konglomerat yang bergelimang uang. Hidup diantara barang – barang mewah. Mahal. Bermerek. Nge melihat sebuah pilihan sulit untuk Hawa yang tegak di hadapannya. Tidak ! Tubuh itu sudah tidak cukup tegak untuk menopang beban hidup yang bertengger di pundaknya.

Yang Nge rasa, wanita hanya bisa dijadikan robot. Bukan ! Entahlah..Nge tidak tahu harus menggambarkan wanita seperti apa. Mereka dapat dijadikan robot bagi pria yang malas. Wanita bisa dijadikan boneka bagi pria yang manja. Wanita bisa dijadikan sebagai penasihat ulung bagi pria yang bijaksana. Wanita bisa dijadikan “baju ganti” bagi pria yang“senang ganti baju”. Wanita bisa dijadikan payung bagi pria yang takut akan hujan. Wanita bisa dijadikan embun bagi pria yang merindukan kesejukan murni. Wanita bisa dijadikan tameng bagi pria yang pengecut. Wanita bisa dijadikan selimut bagi pria yang menginginkan kehangatan. Wanita bisa dijadikan sinar bagi pria yang dirundung kegelapan. Wanita bisa dijadikan rambu – rambu kehidupan bagi pria yang tersesat. Wanita bisa menjadi air yang memuaskan dahaga pria. Wanita bisa… bagi pria yang…

Namun pria ??

Semuanya sudah tugas pria. Pria harus lebih bisa agar wanita bisa. Singkat bukan ?

Yang Nge utarakan saat ini, “Dunia sudah mulai gila dan terbalik. Roda kehidupan berputar dengan sangat cepat. Tak memandang waktu yang diberikan oleh Sang Kuasa.”

Yang Nge tahu, pikir, lihat, dan rasa adalah ada sesuatu yang salah di tempat yang benar.

October, 09th 2008

Published in: on at 1:59 am Comments (1,457)

Nge yang manis

Hari ini Nge sedang bahagia. Ia tersenyum. Manis. Manis sekali. Sampai – sampai saya ingin sekali memeluknya kerena Nge sangat manis hari ini. Namun niat itu saya batalkan karena saya masih termasuk wanita yang acuh dan merinding dengan kata – kata lesbian. Biarlah..biar saya menikmati kebahagiaan Nge. Karena kalau Nge bahagia saya pun bahagia.

Kali ini Nge memakai baju favorit, celana favorit, sepatu favorit, tas favorit..pokoknya semua yang ia pakai kali ini favorit untuknya. Pantas saja kali ini ia terlihat sangat bahagia. Cantik. Manis. Apa hanya dengan ia memakai apa yang ia suka ia dapat sangat bahagia saat ini ? Tidak ! Kalian mau tau apa ?

Sam.

Sam yang menyempurnakan kebahagiaannya kali ini. Saat ini.

Sam yang juga tersenyum dengan manis. Manis sekali. Seperti Nge juga yang tersenyum manis pada Sam.

Tawa mewarnai pertemuan mereka berdua. Cinta menjadi atmosfir manis yang menyergap mereka berdua. Dan rasa rindu lah yang mengikat mereka berdua. Mereka betah. Mereka bahagia. Mereka tersenyum. Manis. Manis sekali.

Tapi mereka tidak hanya berdua. Mereka tidak berada dalam pepatah “dunia milik kita berdua”. Mereka ada di tengah – tengah orang gila ( bagi Nge ). Nothing last forever. Begitu pun dengan ini semua. Pasti ada saja yang mengusik. Bagai daun yang jatuh di atas air yang tenang.

Salah satu teman Sam menggamit tangan Sam dan memisahkannya dari Nge. Nge sebal. Tapi Nge tidak bisa berbuat apa – apa. Nge pun masih punya hati dan toleransi untuk membagi Sam dengan orang di sekitarnya. Sam bukan robot. Sam bukan boneka. Sam bukan patung. Sam manusia. Jadi Nge harus bisa berbagi Sam.

Tak butuh waktu yang lama untuk menanti Sam kembali. Tapi kali ini Sam tidak tersenyum dengan manis. Tapi Sam juga tidak bersedih. Sam bilang pada Nge kalau ia harus keluar sebentar. Artinya Nge akan ditinggal untuk sementara oleh Sam. Tidak maslah bagi Nge.

“Mau apa ?” tanya Nge polos.

“Mau jemput teman sebentar. Nanti juga balik lagi kok. Kamu tunggu aja dulu di sini,”

Sam pergi.

Selama menunggu Sam tak ada yang dapat Nge lakukan selain memperhatikan orang – orang gila di sekitarnya. Gila tertawa. Gila minum. Gila berduaan. Gila nyanyi. Semuanya gila. Dan Nge gila memperhatikan mereka yang gila. Saat ini sepertinya Nge terperangkap di tempat yang ia tidak suka. Bukan ! Bukan sepertinya. Nge memang tidak suka tempat ini. Nge tidak suka dengan suasananya. Nge tidak suka dengan Sam yang meninggalkannya sendiri. Dengan begini Nge bingung. Padahal Nge sudah cukup akrab dengan ini semua. Nge sudah lama tahu dengan ini semua. Tapi dirinya belum juga merasa nyaman. Belum juga merasa menyatu. Nge merasa seperti minyak yang berada di tengah – tengah air. Air yang gila ( bagi Nge ).

Untungnya Sam cukup gesit. Setidaknya Sam jauh lebih baik dari pada harus menyiksa Nge lagi dengan ini semua. Sam datang. Namun pergi lagi. Tidak pergi jauh. Masih di sekitar tempat itu.

“Habis dari mana ?” tanya Nge dengan dahi berkerut.

“Jemput teman,” jawab Sam sambil mengusap keringat.

Melihat itu Nge dengan sigap mengambil tisu dari tas dan mengusap keringat Sam. Sam mulai tersenyum.

“Siapa ?”

“Tuh,” jawab Sam singkat. Kini Sam meraih tangan Nge. “Maaf ya nunggu kelamaan,”

Tapi Nge tidak peduli dengan permohonan maaf Sam. Nge belum melihat wujud teman Sam yang tadi dijemput. Pandangannya ia sebarkan ke seluruh penjuru ruangan dan akhirnya menangkap wujud yang sama sekali langsung ia tidak suka. Nge bukan tidak suka karena makhluk itu lebih sempurna. Tapi Nge tidak suka karena hanya karena makhluk itu Nge harus terjebak di suasana yang ia tidak suka tadi. Kini Nge benar – benar tidak suka.

“Siapa ?”

“Teman,”

“Heh..Gue juga tau itu temen lo. Tapi siapa ?!”

“Jablay,”

“Apa ?”

“Jablay,”

“Apa ?!”

“Jablay !”

“Jablay ??!”

“Iya,”

Sialan ! Jadi tadi Nge cuma disuruh nunggu Sam yang jemput jablay ??! Iya.

“Oh,” ujar Nge singkat.

“Sayang…”

“Tai kucing !”

“Aku nggak make dia kok,”

“Nggak sekarang,”

“Sumpah !”

“Tai kucing !”

“Sayang…Aku cuma sayang kamu. Aku nggak mau yang lain. Lagian buat apa aku pake yang gituan ?”

“Kepuasan batin,”

“Cuih !” Kini terasa Sam mulai menegang. “Kalau aku mau yang kayak gituan gampang. Tinggal pergi lagi juga nggak lama dapet !”

Cuih ! Sombong sekali dia ! Dia pikir dia siapa ??! Tapi biarlah..Mau dapat dengan cepat atau lambat yang pasti Nge tidak terima waktunya tersita oleh seorang jablay. Bukan ! Tepatnya Sam yang menjemput jablay. Ah..terlalu manis untuk disebut jablay. Pelacur gratisan !

“Sayang..” Tangan lembut Sam menyentuh tangan Nge yang mulai berkeringat.

“…”

“Tadi nggak ada yang mau jemput dia,” ujar Sam sambil menunjuk orang yang tadi dijemputnya.

Nge melirik perempuan itu dengan sengit. Badannya kurus bahkan nyaris tak berpayudara ( bagi Nge ). Tubuhnya memang ramping tapi terlalu kurus ( bagi Nge ). Orangnya memang cantik tapi lebih cantik dirinya ( bagi Nge ). Dan yang terpenting, orang itu ( tepatnya perempuan itu )…Sialan ! Okay ! Memang perempuan itu lebih cantik! Puas ??!

“Kenapa lo mau ?”

“Aku udah nolak tapi yang lain maksa,”

“Kenapa harus lo ?”

“Mana aku tahu. Dia nggak mau dijemput dengan yang lain,”

Dahi Nge berkerut bingung.

“Nggak mau dibonceng dengan yang lain,” ralat Sam.

“…”

“Sayang…”

“Ah !” Nge mengenyahkan tangan Sam.

Mungkin Sam sudah terlalu lelah untuk mengemis maaf pada Nge. Bukan ! Bukan mengemis ! Sam hanya ingin membiarkan Nge tenang karena itulah yang biasa Sam lakukan kalau Nge sedang seperti ini. Kalau Nge sedang marah. Kalau Nge sedang kesal. Sam pergi. Lagi. Meninggalkan Nge sendirian.

Nge semakin kesal. Gemuruh emosinya yang tertahan bergejolak sesak di dalam relung hatinya. Darahnya naik menekan otaknya yang penuh dengan umpatan. Nafasnya memburu pertanda ada gejolak amarah yang menunggu untuk menyembur keluar. Tapi apa yang bisa dilakukan Nge ? Nge hanya diam. Nge tidak mau bertindak bodoh hanya dikarenakan hal bodoh agar dirinya tidak terlihat bodoh yang sebabkan dia telah dibodohi oleh orang yang menurutnya bodoh saat ini.

Bodoh ! Ya, bodoh ! Dengan Nge marah seperti ini Nge sudap cukup terlihat bodoh !

Bodoh !

Nge tidak mau tersergap oleh atmosfir gila lagi untuk kedua kalinya. Kini ia beringsut bangkit mencari Sam. Sam yang tadi pergi meninggalkan dirinya. Membiarkan dirinya yang mulai terlihat bodoh.

Sam tadi pakai baju putih.

Tapi mana ?? Yang ada mereka – mereka yang berbaju merah, biru, hitam, kuning, abu – abu, hitam lagi, hitam lagi, biru dan…yap ! Putih ! Itu pasti Sam ! Di dalam kamar sana ada Sam. Dan…perempuan itu ??! Cukup jelas melihat raga berbaju putih dengan seorang perempuan yang kancing kemejanya sudah terbuka dari celah pintu. Mungkin sudah terbuka semua tapi Nge tidak peduli. Yang ia pedulikan kini hanya orang yang berbaju putih itu.

Tampaknya perempuan itu sudah cukup tidak berdaya direngkuh oleh orang yang berbaju putih itu ( bagi Nge orang itu Sam ). Pemandangan yang menjijikan. Perut Nge sebenarnya sudah mual. Mulutnya sudah tak tahan untuk menjerit. Matanya sudah tak kuat lagi melihat adegan di sana. Tangannya sudah terkepal ingin…ingin apa ? Entah lah..Yang pasti Nge sudah muak dengan ini semua.

Saya tahu kalau Nge tidak secantik perempuan itu. Yeah…saya sebut saja perempuan karena saya masih menghormati Nge yang amat sangat menghormati kaum perempuan walau perempuan itu sendiri tidak menghormati dirinya. Saya tahu Sam tidak tahu kalau Nge sedang melihatnya dari celah pintu. Saya tahu perempuan itu sudah lupa dengan apa – apa. Yang pasti sangat saya tahu yaitu hati Nge benar – benar hancur. Bukan ! Bukan hancur. Perasaan Nge saat ini lebih ke muak. Ya, muak karena dibohongi ! Muak karena dikhianati. Muak karena…karena…Sam lebih memilih untuk asyik dengan perempuan itu.

Nge sudah tidak tahan ! Nge ingin menampar wajah perempuan itu dan lebih tepat apa yang diinginkannya adalah menyepak Sam. Menendangnya secara jiwa dan raga.

“Sayang ??!”

Nge terkejut. Nge kaget dengan apa terjadi. Tidak pernah ia sangka dan ia duga sebelumnya. Nge kini berdiri mematung. Mulutnya menganga. Amarahnya kini hilang entah ke mana. Mual karena muak yang tadi dirasanya luntur dan tak terasa seketika.

Klek ! Pintu ditutup dengan rapat.

Nge masih diam.

“Sam…”

“…”

“Kamu…”

Kini hati Nge berdegup kencang. Bergemuruh lagi karena Sam melihatnya yang tadi sedang berdiri di situ. Sam memandangnya dalam – dalam kini.

“Kamu ngapain ngintip ?”

“…”

“…”

“Tadi pergi ke mana ? Habis dari mana ?”

“Aku main bola sama Tom,”

“…”

Tom yang masih belum lancar untuk berjalan datang menghampiri Sam. Tom tertawa. Tawanya lepas dan lucu. Kalau di telinga Nge sekarang terasa begitu renyah. Kini Nge tersenyum. Ia merasa malu pada dirinya. Pada Sam. Pada Tom. Pada orang berbaju putih di dalam tadi. Dan pada perempuan itu.

Hari ini Nge sedang bahagia. Ia tersenyum. Manis. Manis sekali. Sampai – sampai saya ingin sekali memeluknya kerena Nge sangat manis hari ini. Namun niat itu saya batalkan karena saya masih termasuk wanita yang acuh dan merinding dengan kata – kata lesbian. Biarlah..biar saya menikmati kebahagiaan Nge. Karena kalau Nge bahagia saya pun bahagia.

P.S. : Thanks Ranj. Your story is inspired me.

October, 08th 2008

Published in: on at 1:57 am Comments (0)

untitled

Nge menyalakan rokok yang entah keberapa. Menyulutnya dengan api. Menghisapnya dalam – dalam. Dan..Fuhh..Menghembuskan asapnya ke udaranya. Pikirannya kini sedikit enteng dengan sebatang racun yang ada di sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Matanya menyipit melihat ke sekitar. Tak ada yang menarik baginya. Semuanya sama saja. Datar. Tak ada yang baru. Nge benar – benar bosan.

Nge benar – benar bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi seorang teman lelakinya. Berharap agar orang tersebut setidaknya bisa memperhabarui sedikit harinya yang sudah cukup jenuh. Untuk beberapa saat Nge menunggu balasan sms dari temannya.

1 new message

Begitu tulisan yang ada di layar ponselnya kini. Nge membuka pesan yang diterimanya. Sial ! Sama saja. Datar. Tidak ada sedikit pun unsur baru. Ah…Percuma menghubungi orang yang sedang kelelahan. Hanya akan membuat dirinya seperti tempat sampah pengaduan keluh kesah padahal dirinya pun sedang butuh tempat sampah. Nge butuh tempat sampah.

Nge butuh tempat sampah. Nge mencoba mencari temannya yang lain. Yang kira – kira bisa ia bagi rasa ini. Rasa apa ? Entah lah..Nge sendiri tidak tahu itu rasa apa apalagi saya. Akhirnya mata Nge tertuju pada sebuah nama yang sudah tidak asing baginya. Nge melakukan hal yang sama seperti yang telah ia lakukan pada temannya yang tadi. Nge menunggu cukup lama untuk menerima balasan. Nge menunggu.

Nge menunggu. Ya, cukup lama bagi orang yang sedang jenuh.

1 new message

Hmmh..Lumayan. Lelaki yang bisa diandalkan. Begitulah pikiran Nge berkata saat ini. Rokoknya sudah habis. Nge melihat pada bungkusan rokok yang ada di atas kasurnya. Sial ! Tinggal satu batang. Ia lupa malam ini sudah menghabiskan berapa batang rokok. Tapi itu lebih baik baginya dari pada harus bertengkar dengan makhluk yang kini entah ke mana. Nge membalas sms yang tadi. Lama..Lama…Tak ada balasan. Nge mengantuk. Nge tidur.

Nge tidur. Nge bangun. Ponsel Nge berbunyi. Alhamdulillah sudah pagi. Belum..Ini masih gelap tandanya masih subuh. Nge bangkit dari tidurnya dan mengacuhkan ponselnya yang berbunyi nyaring. Biarlah seisi rumah bangun karena bunyi ponselnya. Nge keluar kamar dan langsung mengambil air wudhu. Nge shalat subuh. Usai menghadap Sang Kuasa ia berbalik ke kamar dan melihat ponselnya tadi. Hh..hanya ucapan selamat pagi dari orang yang tak dikenalnya. Nge membiarkan ponselnya. Tidak. Nge menyalakan lagu dan menaruh ponselnya di bawah bantal. Nge mengantuk. Nge tidur lagi.

Nge tidur lagi. Nge menguap lalu melihat ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dan dua pesan. Ia melihat siapa yang telah menghubunginya. Yeah…Lumayan menyita perhatiannya sejenak. Tapi setelah itu semuanya sama. Datar lagi. Nge bosan lagi.

Nge bosan lagi. Nge merasa benar – benar jenuh kini. Ia ingin keluar rumah. Ingin mencari apa yang tidak hilang. Tidak ! Ia tahu kalau ia kehilangan sesuatu. Tapi ia tidak tahu kehilangan apa. Apa ?? Ya mana saya tahu. Nge saja tidak tahu apalagi saya. Saya saja merasa yang sama seperti Nge. Merasa kehilangan sesuatu tapi tak tahu apa. Namun saya dan Nge menemukan sesuatu tapi tak tahu apa juga. Saya dan Nge hampir gila karena tinggal bersama banyak orang gila.

Saya dan Nge hampir gila karena tinggal bersama banyak orang gila. Orang yang gila kekayaan, gila mitos, gila cinta, gila malas, gila gila ! Ah ! Saya sudah beranjak tapi Nge belum. Nge terlalu malas untuk ikut bangun denganku. Namun aku terlalu lemah untuk menggendong Nge. Tubuh Nge tidak besar tapi rasa malasnya yang begitu besar yang membuatku terasa berat untuk menggendongnya. Saya pernah menampar Nge. Nge diam. Saya pernah menghardik Nge. Nge diam. Saya pernah memanjakan Nge. Nge hanya menurut.

Nge hanya menurut. Padahal Nge itu pemberontak. Mungkin jika dihadapkan dengan saya Nge menjadi lemah. Atau mungkin Nge yang selalu mengalah pada saya ? Nge kini diam menatap saya. Saya pun menatapnya. Saya tertawa. Nge tertawa. Saya diam. Nge diam.

Nge diam. Saya pun bosan. Akhirnya saya mengangkat pantat saya pergi untuk meninggalkan Nge yang bosan. Nge pun pergi.

Nge pun pergi. Saya pun pergi.

Nge bingung.

Saya bingung.

Nge bosan.

Saya bosan.

Kita bingung.

Kita bosan.

October, 7th 2008

Published in: on at 1:56 am Comments (0)

hanya sebuah tulisan

Nge menggigit lagi bibirnya. Hanya itu yang dapat ia lakukan untuk menahan hatinya yang semakin berkeping. Hasratnya untuk menyingkap kain yang menutupi aurat bagian atas kian kuat. Namun kekuatan lingkungan untuk tetap mempertahankan agar kain itu tetap menempel di tempatnya pun tak kalah kuat.

Nge menggigit jari telunjuk kanannya. Rasa perih yang luar biasa belum mampu mengalahkan hatinya yang kini kian perih. Luka itu terbuka lagi. Lagi – lagi terbuka. Bukan olehnya tapi karena dia. Tapi sekarang dia pergi. Tak ada obat. Tak ada tanggung jawab. Tak ada support. Melenggang pergi dengan gagah dihiasi seonggok keangkuhan yang tertanam dalam diri.

Itu Nge yang dulu…

Nge menopang dagu dengan telapak tangan kanannya. Kini bibirnya tak lagi ada bekas gigitan. Jari telunjuknya tidak lagi perih. Tapi hatinya tak kunjung pulih. Hanya umpatan kasar yang selalu keluar dari otaknya yang luar biasa. Bisa saja ia terbang pergi. Melenggang anggun seperti makhluk yang telah mengelupas lukanya. Atau mungkin lebih kurang ajarnya, ia mengenyahkan makhluk itu dari hidupnya. Menghapusnya. Dan menganggap tidak pernah merajut kenangan dengan makhluk itu.

Saat itu Nge sedang tidak memakai baju ketat apalagi korset. Tidak juga sedang mengenakan pakaian renang. Tidak juga dengan songket dan kebaya. Tapi hatinya terasa sesak. Tak ada lagi air mata yang pantas ia keluarkan untuk keadaannya saat ini. Nge merasa makhluk paling bodoh di dunia saat ini. Hari ini. Saat makhluk itu tidak ada di sisinya.

Nge membuka sebuah buku yang tergelak pasrah di atas meja riasnya. Nge membuka buku itu. Membacanya. Hanyut dalam alur cerita. Dan…tes..kini hatinya menangis. Bukan menangis sedih. Bukan pula menangis bahagia. Ia menangis kehilangan. Bukan ! Ia menemukan. Dan…seonggok perasaan mengenyahkan sesuatu pun bergelayut pada hatinya yang menjuntai galau. Mungkin baginya hati yang ia punya terlalu kecil sehingga tidak dapat memuat semua yang ia rasakan dalam satu waktu.

Perlahan…

Bayangan makhluk itu pun mulai memudar. Tapi kini gelisah datang. Khawatir. SHIT!! Buat apa peduli dengan makhluk sialan itu. Tidak ! Nge tidak boleh begitu ! Nge cinta dengan makhluk itu. Ya, Nge cinta dengan makhluk bajingan. Ah..Mungkin terlalu kasar kalau Nge menyebutnya dengan makhluk bajingan. Rasanya makhluk yang tak tahu diri lebih pantas disandang oleh makhluk itu. Namun Nge tidak menyalahkan siapa – siapa mengapa dirinya kini begitu memuja makhluk yang tidak tahu diri itu.

Makhluk itu datang dan pergi semau jidatnya. Tidak peduli apakah Nge sedang membutuhkannya atau tidak. Malah makhluk itu pergi saat Nge sedang butuh dan datang saat Nge ingin bebas dari padanya. Hh..Bagi Nge semua ini sudah biasa. Ya, karena Nge biasa disakiti. Bagi Nge, kini ia seperti sedang berjalan dengan teman yang berbeda tapi terselandung oleh batu yang sama.

Bego juga Nge. Kalau ia tahu akan terasa sakit mengapa selalu melewati jalan yang sama ? Bukan kah dalam hidup ini banyak pilihan yang bisa Nge ambil ? Atau kah mungkin bagi Nge hidup ini tidak ada pilihan jadi ia hanya bisa menjalani apa yang telah digariskan ?

Tidak ! Berulang kali Nge menancapkan bahwa Sang Pencipa Maha Adil pada semua ciptaan – Nya, termasuk Nge. Nge yang gamang kini terguncang. Nge yang terguncang kini tertahan oleh sesuatu. Nge yang tertahan oleh sesuatu kini rapuh. Mungkin dirinya tidak cukup kuat untuk bersanding dengan orang yang berkepala batu. Atau kah mungkin si kepala batu itu sudah tidak mempunyai celah lagi untuk dileburkan ?

Nge menutup buku yang tadi dipegangnya. Nge merasa semakin khawatir. Bukan ! Ini bukan khawatir ! Ia tahu apa rasanya khawatir..Tapi..Ini rindu..Tai ! Sebagian dari hati Nge menolak kalau rasa ini rindu. Sebagian itu berkata kalau ini rasa tai ! Rasa bullshit ! Rasa ngilu yang membuat hati pilu yang sedang kelu.

Hh..Nge terlalu lelah untuk ini semua. Tidak ! Nge tidak mengenal rasa lelah. Nge hanya butuh istirahat. Sama saja bodoh ! Orang yang lelah ya butuh istirahat. Itu tandanya Nge sekarang lelah. Tidak ! Nge tidak lelah. Mungkin kita ganti saja kalimatnya : Nge butuh suasana baru. Nge bosan. Nge ingin sesuatu dan seseorang yang mengerti dirinya. NGE INGIN DIMENGERTI BUKAN HANYA MENGERTI. Oo..Kalau begitu artinya Nge sedang penat. Nge harus cari suasana baru. Ya, memang Nge butuh yang baru, Bego ! Eh, Goblok, yang dibutuhkan sekarang bukan hanya ngemeng. Tapi action ! Tai kucing kalau banyak ngomong tapi bukti nol. Ya, yang Nge butuhkan sekarang hanya bukti.

Nge bangkit dari duduk yang memanjakan keterpurukannya. Nge mencambuk rasa manjanya. Nge mengenyahkan semua rasa khawatir..ah bukan ! Rasa rindunya..

Nge sadar. Nge tahu kalau masih banyak yang lebih sakit dari padanya. Buat apa terus terpuruk kalau ada yang setia mencintainya ? Kini semuanya buyar. Tak terbendung oleh hatinya yang terlalu kecil. Yang sudah cukup terluka untuk dilukai lagi. Semuanya tumpah di atas mukenanya yang kian basah. Bibirnya bergetar. Nge menitipkan salam rindunya lewat – Nya untuk”nya”.

October,6th 2008

Published in: on at 1:53 am Comments (0)

..and I’m so sick..

Satu perasaan gw yang sekarang benar - benar ngeganggu konsentrasi gw.

That is : SO SICK !

Gw so sick sekarang dengan semua yang biasanya bikin gw hepi. Na’udzubillah kalo ini indikasi rasa syukur gw mulai pudar. Gw sedih dengan apa yang gw alamin tapi gw gak mau untuk kesekiankalinya mengasihani diri gw karena kejadian ini. Ini entah kedua kalinya (atau mungkin kesekian kalinya karena gw bodoh) menimpa gw lagi. You know..gw serasa kayak lembu bego yang didorong – dorong ke pojok udah itu dipaksa untuk mematung di sudut ruangan.

TOLOL BANGET KAN GW ??!

Awalnya memang gw ngerasa so small and weak but those make me stronger and think more positive about this fucking problem ! Sebenernya udah dari setahun yg lalu gw aware sama masalah gw yang satu ini supaya gak nimpa gw lagi. Eeh..entah gwnya yang bego atau ney problem yang demen ma gw, ney masalah datang lagi dah ke kehidupan gw. Gwnya sih bosen tapi ney masalah koq gak bosen - bosen ya datang terus ke gw ! Padahal gak gw undang, gak gw sms apalagi gw harapin untuk masuk ke kehidupan gw. Sometimes sesuatu yang bikin kita down banget malah bisa bikin kita lebih manner. Hati gw selalu bilang : “Gak mau - mau lagi gw mah kayak gini !” kalau masalah ney datang lagi ke gw. Tapi apa ? Gw emang cuma manusia awam yang dengan mudahnya kena masalah ini atau mungkin gw gak punya antitoxic untuk ngusir masalah ini dari hidup gw. Ujung - ujungnya selalu aja sama, gw yang menjadi pihak yang dirugikan dan gw yang selalu akhirnya menangis. TAPI GW GAK MAU KALI INI ITU SEMUA TERJADI LAGI !! Gw yakin takdir bisa diubah asal manusia itu mau berusaha. Tapi..Ya Allah..gw udah berusaha sekuat, sebisa, setangguh, sehina, sesakit, sesabar, dan seterkoyaknya perasaan gw. Apa itu semua belum bisa nebus semua ini ? Apa gw harus ngerasain ini di tengah kebahagiaan gw ?

Tapi gw inget kata motivator Mario Teguh, kalau kita sering terkena hal yang melukai kita suatu saat nanti kita akan terbiasa dan melupakan bahwa itu hal yang menyakitkan.

Apa itu bisa diterapkan dalam hidup gw ? Sumpah..gw nyesel banget kadang - kadang suka berpaling dari – Mu, Ya Allah, tatkala gw sedang dalam kebahagiaan yang menimbulkan masalah sialan ini ! Memang Engkau itu Maha Baik. Engkau masih mau mengingatkan aku yang lancang. Semuanya gw serahin sama Tuhan. Hanya Dia yang bisa membalas ini semua. Hanya Dia yang tahu siapa yang pantas mendapat kado dari kejadian ini. Mudah – mudahan gw termasuk orang yang sabar dan dapat kado dari – Nya karena Allah itu Maha Membalas. Satu orang yang benar – benar bikin gw kuat ( walau pun kadang – kadang gw sebel ma orang ini ) that is MAMA. Sumpah, Mah, nasihat Mama selesai makan malam tanggal 14 September 2008 bakal Gita ingat terus. Asal kalian tau semua,itu nasihat terkeren buat semua cewek yang hidup di muka bumi ini !! Salut Gita buat Mama !! Gita sayang Mama!

NB: Air mata yang keluar dari mata gw sekarang bukan untuk this fucking shit problem. Tapi award untuk diri gw yang bisa kuat untuk menerima, bangkit, maju, dan lepas dari ini semua. Semoga Allah membalas semuanya pada gw ! Amien !

Published in: on September 16, 2008 at 12:08 am Comments (0)

hweva’ even whdeva’

SHIT !!
Itu satu kata yg pasti melintas di benak gw klo apa" yg gak gw harapkan
terjadi. But..Astaghfirullah selalu menghapus semuanya ! Amien ! Thanks
God ! :)
Lagi - lagi Ranj ngusik gw dg kasih sayangnya yg sulit bgt buat gw
tolak. Dia selalu datang di saat yg tepat. Dia selalu dtng di saat" gw
mau ngebuang dia jauh dr kehidupan gw. 3 hr terakhir ini entah mengapa
ada smthin’ kecil yg menyulusup di benak gw untuk mengenyahkan Ranj dr
life story gw.
TAPI SUSAH !! Apa mungkin nggak bisa ??!
Gw bisa berhasil nulis sampe 118 halaman memang suatu berkah yg amat
luar biasa dari Sang Illahi Rabb. Tp tak terlepas dr itu semua Ranj one
of my inspirations. He inspired me to complete that story even he just
said, "It’s good and gimana gitu…." but I like it !
Dy satu"nya org yg bisa ngebuat santai hidup gw tapi nggak melepaskan unsur yg terpenting untuk di perhatikan.
Sayangnya..
I think I’m nobody for him. Untuk mendekap dia di hati gw nggak semudah
saat gw menyimpan lelaki yang punya kenangan dg gw di lagu Craig David
- Unbelieveable
. Apa sebenarnya gw nggak sayang sayang amat sm Ranj ?
Apa mungkin gw bisa gini krn cm Ranj cares ma gw ??
WHATEVER !!!!!
But even like that I really jLous this morning when we talked about our eX. Hh..HOWEVER hati gw lil’ bit hope that we will match and one day we’ll meet again ! Amien !
Terlepas dr semuanya, gw merasa klo gw ney kekasih yg nggak dianggap. Gw kyk gini krn gw bego apa gw sayang dg tulus sm dy ?? Well..dua"nya nggak jauh beda. Persamaannya itu sama" buang" waktu dan jalan tercepat untuk sakit hati. But who knows except Allah ??

"Sebagai kekasih yg tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba mengalah
Menahan setiap amarah

Sebagai kekasih yg tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba bersabar
Ku yakin kau kan berubah"

Aku kangen kamu, Ranj. Aku sayang kamu…..

Published in: on July 30, 2008 at 2:48 am Comments (0)

buat apa terus”an begini ??

Well..
Sampai saat ini gw masih inget kata" seorang motivator yang namanya Mario Teguh. he said that, kita nggak akan pernah mendapatkan hasil yg berbeda kalau kita terus"an pakai cara yang sm. Hey..It’s right !
Gw udh melakukan sebuah eksperimen sm Ranj yg super badung (tp buat skrg dy udh better lha than before). Dy perokok berat yg skrg Alhamdulillah malah sk lupa buat ngerokok. Gw jg nyoba ini ke diri gw sndiri yg super dreamer. Gw paksa diri gw utk bangun dari "selimut" gw buat nulis. Finally gw Alhamdulillah bs menghasilkan satu buah novel dg tebal hlman 118. Lumayan lha…..
But..Suatu sore yg cerah, Ranj bilang ke gw kalo gw itu thinker girl. Whadzz ??!
Gw sblmnya gak pernah nyangka kalo selama ini gw thinker. Ranj bilang selama dy deket sm gw, gw itu orgnya terlalu terorgansir and ribet lha pokoknya. And also he said that I hv 2 let all my plan flow. What ?! I can’t !!
Anyway..Gw gak bs menutupi hati gw yg sneeeeng bgt saat dy blang itu smua. Ini membuktikan slm ney akhirnya dy konsen sm pola pikir, tingkah laku, and pribadi gw yg lumayan ribet bukan ??
Now..He is in Tanggerang. Gw tau dy di sna ketemu lg sm mantannya (and I think she is more perfect than me), Claudia. jLous pasti ada dlm diri gw. Tp hati kcl gw selalu bilang buat apa gw jLous ?? Toh gw cm kekasih yg nggak dianggap. May be dy anggap gw as a girl whom he loved but hati gw nggak tau knp slalu jLous klo dngr nm Claudia mengalun di telinga gw.
Buat apa gw terus"an gn ?? Toh Ranj jg blm tentu selalu mikirin gw di sana ??
Saat ini harusnya yg ada di otak gw : LULUS, MASUK UI, NOVEL, BANTU ORTU, PERBAIKI DIRI !!
THAT’S ALL, GITA !!

Published in: on July 17, 2008 at 2:07 am Comments (0)

nobody knows

Nobody knows what I feel this time….
My feeling became strange when I saw my eX FS. I don’t know why and actually I don’t wanna get that feeling too. Semakin lama semakin banyak feeling bodoh yg mengobrak - abrik pola pikir gw. Awalnya gw ngerasa ini cuma bagian dari transisi proses perubahan pikiran dari remaja ke dewasa.
Tapi lama" gw jd weird sndr, u know ?? See ?? Ney gw yang gila apa mulai Skizoferni ? Yax ! Jgn smpe dh !
Susah jg ya mau ngelupain apa yg seharusnya hanya di pending untuk ntar bukan untuk di delete ??
Well..For me it’s still hard to forget my memory with him and change it with the new one. Padahal the new one at least better than before. Hmm…Forget him as hard as I try to keep stabil my love to the new one. But I believe Allah always beside me whereever I am….

Published in: on July 1, 2008 at 4:19 am Comments (0)

what should I do ??

Well….
I wanna write my feeling again.
Gue gak tau harus seneng kah ? Atau malah sedih ?

Ceritanya gini..Gue yakin everybody has someone special (which is non - family) yg nyemangatin hdpnya. Sebut aj cwo spcial (tp gak spcial - spcial bgt c sbnrnya) skrg yg lg mengusik otak gw itu Ranj. Dy cwo yg sm skali pd awmlnya gak berpngaruh dlm hdp gw. Sdktpun utk meliriknya tidk ada minat. Bknnya sombong..tp perhatian gw gak prnah teralihkan ke dy.
Next..
Singkat cerita gw jd keep contact sm dy. Awl mula gw cm ngjadiin dy sbg tmpat curhat gw. Tp lm" kelamaan..U know lah..smuanya berubah jd lbh dr tmn. Rata" semua tmn dy blng klo dy had smthing spcial ke gw dr SMP. But until now gw msh blm prcy soalnya dia itu sm skali gak prnh dkt sm gw. Ngobrol pun bs dhitung dg jari !
Skrg gw hv smthing ma’ dy. Qta "pernah" jdian but skrg gak. Gw sndr jg gak tau apakah udh putus atau blm. Yg pasti kmitmen gw sm dy : "Gw syng lo, Lo syng gw. Tapi gw bkn cwe lo, Lo bkn cwo gw. That’s all!". Gw gak terima klo di smkan dg TTM cz (gak tw knp bg gw kata TTM terlalu "gmn" gt kesannya !)

After long time being in relationship with him..Gw bs syng sm dy. Mungkin bnr kata org" klo rs syng bs tumbuh krn terbiasa. But skrg dy udh sbuk dg kesibukannya mengejar targetnya. Well..gw jg di sini gak kalah sibuk. Tp sialnya knp kesibukan gw nggak bs mengenyahkan dy dr pikiran gw ?!
Apakah ini tndanya gw udh ktergantungan sm dy ?
Gw gak mau smua itu trjdi sm gw. Gw skrg cm mau berusaha ngejar target tnpa ada gangguan dr pihak manapun. But klo gak ada gngguan jg gak enak ya gak ada tantangan ?!
Basicly..
Gue cm mw ngejaga perasaan gw ke dy biar gak jd hyper. Krn gw yakin klo gw terlalu hyper sm dy, gw akan jd ketergantungan & always think about him ! I don’t wanna it all !!
Gw cuma mau melihara prsaan ney smpai saatnya tb gw bisa mencurahkan smuanya ke dy. (I hope he’ll keep his feeling to me too….). Tp ap bs qta melihara syng kita spy gak berlebih ?? Bukan kah klo qta bnr" syng, rasa syng itu akan semakin hari kian menjadi ? Kalo kian hari kian menurun bukan kah itu artinya menjadi benci ??
Gw cuma pengen kian hari perasaan itu tetap tanpa bertambah & berkurang. Tp dg keadaan sprti skrg memposisikan gw harus mengurangi atau menambah rasa syng gw !
Bs gak c sbnrnya qta mempertahankan kadar syng kpd seseorg tnpa mengurangi & menambah sdkit pun ?? What should I do ??
Well….
Hrapan gw adalah target qta berdua tercapai smpai suatu saat klo Allah mnghendaki dy akan tau betapa syngnya gw ke dy seperti dy syng ke gw. Harapan gw about gw - dy begitu simple krn gw gak pernah blng "Aku Cinta Kamu" sm dy. Nggak ! Gw tahan lisan gw sebisa mungkin (Help me, please, Allah !) spy rasa syng gw (or may be love) dalam kadar yang tetap..
Tidak berkurang….
Tidak bertambah….

"Apakah gw terlalu angkuh untuk tidak mengatakan "Aku Cinta Kamu" sm dy ??
Apakah gw org bodoh yg tdk sadar bhwa gw gak pernah tau apakah gw msh punya waktu untuk mengatakan "Aku CInta Kamu" sm dy ??
Atau kah smua prinsip gw bnr demi menjaga sucinya syng gw sm dy ??
Allah knows………."

Published in: on June 25, 2008 at 11:12 pm Comments (0)